Cerita Akhir Minggu: Sejarah Bioskop di Indonesia, Telah 120 Tahun

Salah satu tempat hiburan sangat terkenal serta disukai banyak orang merupakan bioskop. Terdapat banyak metode serta tempat buat menyaksikan film serta bioskop masih senantiasa jadi opsi utama, tercantum untuk warga Indonesia.

Rasanya nyaris seluruh orang sempat nonton film di bioskop. Di Indonesia paling utama di kota- kota besar, tentu terdapat bioskop yang dapat kita jumpai. Di Indonesia, antusiasme warga buat berangkat ke bioskop dapat dilihat pada akhir minggu, dikala liburan ataupun masing- masing Sabtu malam yang diketahui dengan waktu Midnight Show( pertunjukkan tengah malam).

Bioskop awal di dunia telah terdapat semenjak 1895, tepatnya di Paris, Prancis. Sebaliknya di Amerika Serikat telah terdapat setahun setelah itu. Kemudian, semenjak kapan bioskop terdapat di Indonesia? Nyatanya cuma sebagian tahun sehabis bioskop awal di dunia memutar film buat awal kalinya.

Dikutip dari halaman merdeka. com, bioskop awal di Indonesia berdiri pada Desember 1900, di Jalur Tanah Abang 1, Kebon Jahe, Jakarta Pusat. Tetapi bioskop ini bukan didirikan di suatu gedung, tetapi di suatu rumah.

Cocok namanya, Talbot, bioskop tersebut didirikan oleh seseorang pengusaha Belanda bernama Talbot. Mereka mematok harga tiket sebesar 2 Gulden( perak) buat kelas 1 serta harga kelas 2 cuma separuh Gulden. Harga yang lumayan mahal sebab harga separuh Gulden saja setara dengan 10 kilogram beras kala itu.

Masyarakat Jakarta dikala itu disuguhkan dengan film tidak berdialog alias bisu yang bertajuk” Sri Baginda Maharatu Belanda bersama Pangeran Hertog Hendrick merambah Bunda Kota Belanda, Den Haag”. Film bercorak hitam- putih ini di cuma diiringi musik sejauh film berlangsung.

Perihal itu dibenarkan oleh pengamat film sekalian wartawan senior, Yan Wijaya dan Pimpinan Gabungan Pengusaha Bioskop Segala Indonesia( GPBSI) Joni Syafrudin Nonton Film Online .

“ Bioskop awal di Indonesia terdapat di Jakarta, di wilayah Tanah Abang di tahun 1900. Waktu itu masih film bisu, belum terdapat diskusi serta hanya terdapat musik. Dari sana mulai bermunculan bioskop- bioskop lain serta waktu itu masih memiliki individu belum jadi tim ataupun jaringan semacam saat ini,” tutur laki- laki yang akrab disapa Pak Yan ini lewat sambungan telepon pada Liputan6. com, Jumat, 3 Januari 2020.

Perihal senada pula diutarakan Joni Syafrudin lewat sambungan telepon pada Jumat, 3 Januari 2020.

“ Dari bioskop awal di tahun 1900, berarti telah 120 tahun pertumbuhan bioskop di Indonesia serta masih terus tumbuh. Saat ini banyak opsi buat nonton film tetapi bioskop senantiasa jadi opsi utama,” cerah Joni.

Setahun setelah itu, 1901, berdiri bioskop di kawasan Gambir, Jakarta Pusat. Bangunan bioskop masih menyamai bangsal serta beratapkan seng.

Bangunan ini tidak terbuat permanen sebab sehabis film diputar hingga pengusaha film itu hendak memutar filmnya di luar kota serta berkelana ke kota- kota yang lain.

Seseorang pengusaha yang lain yang bernama Schwarz mendirikan bioskop di kawasan di Jalur Kebon Jahe, Tanah Abang, Jakarta Pusat. Sayangnya, bioskop itu hangus dibakar sehabis hadapi musibah serta kesimpulannya pindah ke suatu gedung di wilayah Pasar Baru.

Pada 1903, timbul bioskop- bioskop yang lain di Deca Park yang bernama Jules Francois de Calonne. De Calonee ini berbeda dengan bioskop yang lain, pemutaran film ini diputar di lapangan terbuka ataupun yang biasa diucap misbar alias gerimis bubar. Sebab diputar di tempat terbuka, jika turun hujan ataupun gerimis hingga pemutaran film juga wajib dihentikan.

Bioskop yang lain yang mulai timbul terdapat Elite di Pintu Air, Rex di Kramat Bunder, Cinema di Krekot, Centraal di Jatinegara, Rialto di Senen serta Tanah Abang, Surya di Tanah Abang, Thalia di Hayam Wuruk, Orion di Glodok, Angkatan laut(AL) Hambra di Sawah Besar, Oost Java di Jalur Pensiunan, Widjaja di Jalur Pasar Ikan, Rivoli di Kramat, serta masih banyak lagi.

Tidak hanya di Jakarta, wilayah yang lain yang telah lama memiliki bioskop merupakan Bandung. Bunda Kota Jawa Barat itu memiliki bioskop awal pada 1905 yang bernama Helios yang berlokasi di Jalur Braga.

Satu bioskop lagi yang tercantum memiliki merupakan Metropole di kawasan Megaria, Jakarta Pusat. Dikala ditetapkan pada 1951, Metropole tercantum bioskop terbanyak dengan sarana terlengkap, ialah berkapasitas 1. 700 tempat duduk, berteknologi ventilasi peniup serta penyedot, bertingkat 3 dengan ruang dansa serta kolam renang di lantai sangat atas.

Bioskop yang terletak di antara sudut Jalur Pegangsaan serta Jalur Diponegoro, Menteng, ini sempat berganti nama jadi bioskop Megaria saat sebelum pada 2008 berganti kembali jadi Metropole. Hingga dikala ini Metropole jadi bioskop tertua di Jakarta serta Indonesia yang masih beroperasi.

Gedung bioskop ini dinyatakan bagaikan Bangunan Cagar Budaya Kelas A yang dilindungi serta tidak boleh dibongkar bersumber pada instruksi Gubernur DKI Jakarta pada 1993. Dinas Kebudayaan serta Permuseuman DKI Jakarta tidak hendak membiarkan pembongkaran gedung Metropole. Kalaupun owner baru hendak mengganti pemakaian bangunan itu ataupun membangun kawasan sekitarnya, dia wajib menemukan izin dari Regu Persidangan Pemugaran Dinas Kebudayaan serta Permuseuman DKI.

” Metropole ini salah satunya bioskop tua memiliki yang tersisa di Jakarta. Statusnya bagaikan Cagar Budaya Kelas A jadi tidak boleh dibongkar. Ini bioskop tertua di Indonesia serta salah satu dari sedikit bioskop yang stand alone( memiliki bangunan sendiri), bukan di dalam mal ataupun pusat perbelanjaan. Satu lagi terdapat bioskop Kartika Chandra( KC) di Gatot Subroto, Jakarta Selatan,” cerah Joni.

Pada 1987 bioskop mulai berkonsep sinepleks ataupun gedung bioskop dengan lebih dari satu layar. Sinepleks ini umumnya terletak di titik- titik keramaian semacam di mall, restoran, pusat perbelanjaan, serta pertokoan.

” Bioskop dengan lebih dari satu layar ini pelopornya bioskop Twin Theatre di dekat Monas, waktu itu mereka memiliki 2 layar. Bioskop ini telah lama tutup tetapi tercantum memiliki pula,” cerah Joni.

Konsep tersebut dibesarkan oleh jaringan bioskop 21 semenjak 1988 yang hingga dikala ini mempunyai layar bioskop paling banyak di Indonesia. Bioskop awal mereka merupakan Studio 21 yang dikala itu berlokasi di Jalur MH Thamrin Kav. 21, Jakarta Pusat. Walaupun telah lama ditutup serta saat ini jadi gedung perkantoran, bioskop yang dikala itu berlokasi diantara Sarinah Thamrin serta Bunderan Hotel Indonesia ini jadi cikal bakal jaringan bioskop 21 di negara ini.

Dari sana lah industri perfilman dari tahun ke tahun mengalam pertumbuhan yang sangat pesat. Di masa 2000- an pertumbuhan bioskop kian gempar. Pengelola terbesarnya ialah 21 Cineplex dengan bioskop 21 serta XXI, serta satunya lagi dikelola oleh the premiere. Bioskop ini tersebar di segala Indonesia.” Tidak hanya jaringan Cineplex 21, saat ini pula terdapat Cinemaxx, CGV, Cinepolis, New Star, serta sebagian bioskop independen semacam Kota, Dakota, Bes, Rajawali serta masih banyak lagi,” jelas Yan Wijaya.

” Hingga dini 2020 tercatat lebih dari 2. 000 layar bioskop di Indonesia, serta dekat 1. 200 kepunyaan jaringan 21 serta XXI. Ini hendak terus tumbuh. Aku memperkirakan angka 3. 000 layar hendak tercapai dalam tempo sebagian tahun ke depan,” lanjutnya.

Sebaliknya bagi Joni, dikala ini telah terdapat 2300 layar bioskop di Indonesia.

” Perkembangannya masih bagus serta atensi orang nonton di bioskop masih lumayan besar, teruji dari terus menjadi bertambahnya jumlah bioskop di tahun ke tahun,” ucap Joni.

Dengan pertumbuhan era serta teknologi yang terus menjadi maju, membuat opsi buat menyaksikan film pula kian bermacam- macam serta kian gampang. Walaupun begitu, senantiasa saja banyak orang memilah tiba ke bioskop.

” Banyak orang yang memiliki home theatre di rumahnya, terdapat pula yang nonton di pc ataupun ponsel, tetapi rasanya beda. Di rumah terdapat saja kendala, terdapat yang manggil, nelpon ataupun memohon tolong cariin benda, jadi tidak fokus, kecuali nonton sendiri di kamar serta kunci pintu, hahaha, tetapi kan tidak lezat pula, makanya senantiasa tiba ke bioskop,” kata Joni.

” Saat ini kan nyaris seluruh bioskop terdapat di mal, jadi dapat sekaligus jalan- jalan ataupun mencuci mata. Serta yang lebih enaknya lagi, di bioskop kita dapat ketemu sahabat, keluarga ataupun bisa jadi pula memiliki kenalan baru, jadi dapat buat bersosialisasi. Itu keunggulan bioskop yang tidak dapat didapat di tempat lain,” sambungnya.

Sependapat dengan Yan Wijaya, Joni Syafrudin senantiasa optimis bioskop di Indonesia hendak terus berkembang serta tumbuh dan senantiasa diminati banyak orang.

” Jika aku belum ingin memprediksi dapat 3000 layar, ya pelan- pelan saja yang berarti dapat terus berkembang. Saat ini ini membuka bioskop di mal masih jadi opsi utama dibanding yang stand- alone sebab modal serta bayaran penjaannya jauh lebih hemat. Yang tentu, aku optimis bisnis bioskop masih bagus serta menjanjikan,” ucap Joni sembari mengakhiri pembicaraan.

Cerita Akhir Minggu: Sejarah Bioskop di Indonesia, Telah 120 Tahun

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to top